Parenting for Teenage

Parenting, mungkin itu kata yang masih cukup asing di dengar oleh masyarakat Indonesia. Tetapi tak jarang juga program parenting sudah bermunculan di banyak stasiun televisi nasional. Nah apasih Parenting ini?

Parenting adalah ilmu tentang mengasuh, mendidik dan membimbing anak dengan benar dan tepat. Jadi mengasuh anak itu ada ilmunya yang dinamakan dengan parenting. Kalau bahasa jawanya “Nyinau ngemong anak”. Terkadang kita orang tua menghadapi beberapa masalah ketika menghadapi buah hati kita yang sedang beranjak dewasa. Kita tahu sang buah hati tak akan selamanya diam di rumah dan bersenda gurau bersama kita. Nantinya mereka akan beranjak dewasa dan memiliki kehidupannya sendiri.

Dalam proses menuju dewasa tentunya anak-anak akan melewati tahapan menjadi remaja, dimana di masa itu kondisi psikologis manusia sedang dalam posisi labil dikarenakan sedang mencari jati diri yang sebenarnya. Ingin jadi seperti apa sang anak kedepannya. Berikut ada beberapa tips untuk menghadapi anak-anak kita yang sedang memasuki masa remaja.

  1. Buat rutinitas Bicaralah pada anak Anda secara teratur (tentang apa pun). Dengan begitu, ia akan merasa selalu punya waktu untuk berkomunikasi dengan Anda.
  2. Lakukan di dalam mobil Anak-anak lebih mudah merespon saat ia berada di dalam mobil (dengan posisi Anda sedang menyetir!) karena mereka tidak harus berhadapan muka dengan Anda. Ambil kesempatan ini untuk mengajaknya bicara. Ajukan pertanyaan spesifik namun terbuka, seperti “Apa saja kejadian hari ini yang ingin kamu ceritakan pada mama?”, atau “Kenapa, sih, kamu suka sekali pergi dengan Jeremy?”

 

Jika yang Anda dapatkan hanyalah tatapan kosong dari si remaja Anda, tunggulah sejenak. Jika diberi ruang untuk bernapas sejenak, ia biasanya akan mulai bicara.

  1. Lakukan lewat permainan Bermain membuat anak merasa nyaman karena ia merasa fokus pembicaraan tidak tertuju padanya. Saat makan malam, misalnya, lakukan permainan atau kegiatan di mana setiap anggota keluarga harus mengatakan sesuatu yang baik (dan tidak baik, tentu saja!) yang terjadi hari itu.

 

Atau ide lainnya, tuliskan beberapa pertanyaan di kertas, seperti “Hal apa yang paling mengganggumu?” Minta anak Anda mengambil satu buah kertas, dan minta ia untuk menjawab pertanyaan yang tertulis di kertas tersebut.

  1. Ajukan banyak pertanyaan Ini bukan sekedar pertanyaan sederhana atau basa-basi, tetapi untuk menunjukkan pada dirinya cara berkomunikasi dua arah yang baik. Anda juga tak perlu sungkan memintanya untuk bertanya tentang hal-hal yang terjadi pada diri Anda hari ini. Hal ini akan mengajarkannya empati dan membuatnya lebih dekat pada Anda, dan mungkin yang lainnya.
  2. Tak mudah memberi saran Diskusi Anda dan si remaja akan segera berakhir ketika Anda mulai pada kalimat “Ketika mama seusiamu…” Nah, cobalah menahan diri untuk tidak memberikan saran kecuali jika ia memintanya. Ketika Anda tergoda untuk memberinya saran, coba ingat-ingat kembali sudah berapa kali Anda menyampaikan saran itu. Dua kali? Kalau begitu, jangan ulangi lagi! Jika Anda terlalu cepat memberinya saran, ia mungkin akan merasa dihakimi dan akan menutup diri.
  3. Perlu strategi untuk memberi nasehat Ya, pada akhirnya Anda memang perlu memberikan saran yang baik untuk anak Anda. Hanya saja, cobalah untuk melakukannya tidak dengan cara  mengkhotbahinya. Jauh lebih efektif untuk menunggu dan katakana kemudian “Mama berpikir tentang apa yang kamu katakan, dan sepertinya Mama punya beberapa ide untuk masalah kamu. Mau dengar?” Setelah itu, ikuti dengan kalimat, “Apa pendapatmu tentang ide Mama?”
  4. Siapkan solusi Jika Anda termasuk orang yang menggunakan transportasi publik untuk pulang bekerja, coba kirimkan SMS atau telepon anak Anda dalam perjalanan pulang. Percakapan singkat ini akan memberi Anda gambaran singkat tentang suasana hatinya saat itu. Dengan begitu, Anda akan punya lebih banyak waktu untuk berpikir tentang apapun yang mungkin perlu Anda tangani, hadapi, atau persiapkan, untuk menghadapi si remaja Anda setibanya di rumah.

 

Nah itu adalah 7 langkah kecil yang bisa digunakan oleh anda untuk menghadapi si kecil yang sedang beranjak memasuki masa remaja. Jika kita bisa memahami sang buah hati maka sang buah hati akan memahami kita juga. Selamat mencoba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *