Upacara Sederhana di 259 Tahun Kota Jogja

Semarak ulang tahun kota Yogyakarta yang ke-259 memang sudah tercium hingga ke pelosok kota bahkan sejak berhari-hari sebelum hari perayaan. Tanggal 7 Oktober dikenal oleh warga Yogyakarta sebagai hari ulang tahun kota istimewa mereka. Jika Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar Pawai Budaya dengan warna-warni bunga apinya sebagai puncak perayaan hari besar ini, warga Padmanaba pun tak ingin tinggal diam untuk memeringatinya. Perayaan HUT kota Jogja tahun ini di Padmanaba dapat dibilang cukup sederhana.

3

Alih-alih merayakan HUT Jogja dengan satu hari penuh yang diisi berbagai macam lomba-lomba tradisional seperti Jog Day 2014 lalu, kali ini warga Padmanaba merayakannya cukup dengan mengenakan pakaian tradisional Jogja dan upacara bendera. Pada Rabu, 7 Oktober 2015 lalu, kurang lebih pukul tujuh pagi, lapangan tengah SMA Negeri 3 Yogyakarta sudah meriah dengan warna-warni kebaya dan surjan yang dikenakan para siswa dan guru. Barisan diatur layaknya upacara biasa, guru-guru membuat dua saf barisan di selatan lapangan, siswa-siswi pertukaran pelajar dari Belanda pun ikut berbaris, dan Paduan Suara Padmanaba sudah siap dengan mic mereka. Tetapi, ada satu hal yang membuat upacara yang singkat ini sangatlah unik.

Petugas upacara pagi itu, yang merupakan anggota Bhayangkara Padmanaba 72, membacakan semua rangkaian acara serta aba-aba kepada peserta upacara dalam bahasa Jawa. Hal yang tak biasa ini dianggap sangat unik dan bagaimana pun cukup menghibur peserta upacara. “Siyaga yitna, gya!” seru Muhammad Faishal Arkan (XI IPA 3) selaku pemimpin upacara, menyiapkan seluruh peserta. “Kurmat, gya!” serunya lagi, lalu seluruh peserta upacara memberikan hormat kepada pembina upacara, yakni Ibu Dwi Rini Wulandari sendiri selaku kepala sekolah.

4

Upacara peringatan itu memang berlangsung cukup singkat, mengingat rangkaian yang diadakan lebih mirip seperti apel pagi. Pada sesi amanat pembina upacara, Ibu Dwi Rini Wulandari membacakan teks pidato Walikota Yogyakarta, Bapak Haryadi Suyuti, yang ditulis dalam bahasa Jawa untuk memberikan pesan kepada masyarakat Yogyakarta di hari istimewa itu. Selepas itu Paduan Suara Padmanaba menyanyikan lagu Cublak-Cublak Suweng dengan gaya khas mereka yang menarik, sebagai penampilan penutup di upacara itu.

Bubar sareng, gya!” seru Arkan, menutup upacara peringatan HUT Jogja pagi itu. Para siswa dan guru pun kembali ke rutinitas belajar-mengajar lagi.

 

Penulis : Faiza Putri Aisya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *