Sejarah Singkat SMA Negeri 3 “Padmanaba” Yogyakarta

AMS_school_Djokjakarta

Masih banyak alumni SMA 3 Yogyakarta maupun para pelajar SMA 3 Yogyakarta sekarang kurang memahami sejarah Padmanaba, sekalipun setiap tanggal 19 September selalu diadakan perayaan HUT Padmanaba di sekolah. Sehingga mungkin masih banyak yang rancu mengira HUT SMA 3 Yogyakarta. Menelusuri sejarah SMA 3 Yogyakarta jelas akan memerlukan penelitian tersendiri yang lebih mendalam, karena perjalanan Sekolah Menengah Tingkat Atas kita tentu seirama dengan sejarah gedungnya. Sebuah bangunan tua yang telah dinyatakan sebagai salah sau bangunan cagar budaya Yogyakarta.

Bangunan bersejarah tersebut pada jaman penjajahan Belanda hingga tahun 1942 digunakan sebagai gedung sekolah Algemenee Middelbare School afdeling B, artinya Sekolah Menengah Oemoem bagian B, disingkat AMS-B. Sekolah ini merupakan lembaga pendidikan dengan tujuan untuk menampung pendudukan elit pribumi yang pada umumnya berasal dari kalangan bangsawan dan pegawai pemerintah penajajahan. Alumni AMS-B Yogyakarta tersebar diseluruh nusantara dan tidak sedikit diantaranya ikut memelopori perjuangan, aktif dalam pasang surutnya perjuangan bangsa sejak zaman pra kemerdekaan sampai pascakemerdekaan. Para alumni AMS-B bergabung dalam organisasi yang disebut Keluarga Argabagya. Pada masa penjajahan Jepang, sekitar bulan Juni 1942, sekolah AMS-B diubah menjadai Sekolah Menengah Tinggi (SMT) bagian A dan B. Sekolah kita merdeka pada tahun 1946 nama SMT berubah menjadi Sekolah Menengah Atas bagian A dan bagian B, disingkat SMA-A dan SMA-B. pada pertengahan tahun 1947, SMA-A tidak menempati gedung sekolah bersama SMA-B karena pindah ke Jl.Pakem No.2 Yogyakarta.

Setelah itu, berturut-turut berubah menjadi SMA B1 pada tahun 1949, kemudian mulai tahun 1956 berubah menjadi SMA III B, selanjutnya menjadi SMA Negeri 3 pada tahun 1964 dan kemudian pada tahun 1980 menjadi SMUN 3 sampai sekarang. Alumni SMA-A pada tahun ajaran 1946-1947 terdiri dari 3 (tiga) kelas menjadi bagian Keluarga Besar Padmanaba. Karena sebelum pindah, mereka termasuk para murid sekolah yang menempati gedung bersejarah tersebut, sebagaimana alumni SMT bagian A dan bagian B.

2

Lahirnya Organisasi Keluarga Pelajar Padmanaba

Masa penjajahan Jepang menumbuhkan perasaan senasib dan sepenanggungan yang mendorong tumbuhnya motivasi dan kesepakatan membentuk wadah keluarga pelajar pada tanggal 19 September 1942 dengan nama PADMANABA. Penindasan Jepang sangat menggangu kegiatan belajar-mengajar dan para guru di bawah Kepala Sekolah Bapak RJ Katamsi sangat mendukung sepenuhnya gerakan pelajar tersebut karena keadaan para guru pun tidak berbeda jauh dari nasib muridnya.

Tiada perjuangan tanpa pengorbanan. Anggota Padmanaba yang berjuang dengan mengangkat senjata ada yang gugur sebagai kusuma bangsa, yaitu Faridan M. Noto gugur dalam pertempuran perebutan senjata dari bala tentara Jepang di Kotabaru, Yogyakarta. Anggota Padamanaba yang lainmelawan agresi militer Belanda bergabung dengan Tentara Pelajar. Ada yang gugur diberbagai medan laga, yaitu Suroto Kunto gugur di Karawang, Jawa Barat, Sudiarto, Jokopramono, Jumerut, Pramono, Suryo Haryono, Kunarso Kumoro, Suryadi dan Purnomo, masing-masing gugur di medan tempur Priangan, Banyumas, Kedu, Semarang dan beberapa tempat di Jawa Timur.

Makna PADMANABA

Sebagai gambaran RJ Katamsi, sekitar tahun 1942, memberikan tugas menggambar objek bunga teratai merah. Sebuah objek yang mudah didapat di lingkungan sekolah, karena tanaman tersebut tumbuh di kolam halaman tengah berdekatan dengan pohon karet. Beliau memaparkan makna yang mendalam mengenai bunga teratai merah, yaitu sebagai berikut:

Dalam bahasa Sansekerta disebut PADMA, yang dalam riwayat agama dan kepercayaan bangsa-bangsa Timur merupakan lambang sakral yang banyak menyangkut aspek kehidupan manusia. Kuncup merah mengarah ke atas melambangkan kekuatan uang membumbung ke atas. Pohon teratai memberikan perlambang kehidupan yang mengikuti irama hidup. Apabila air pasang akan ikut naik dan bila air surut akan ikut turun. Sekalipun tumbuh di lingkungan yang kotor, berlumpur, dangan akar serabut yang saling mengait tatapi bunga teratai tetap bersih, indah dan tidak tercemar. Susunan kombinasi pertumbuhan daun dan bunga yangindah dan sempurna yang serasi dengan alam lingkungan di tempat pohon tersebut hidup. Ini melambangkan suatu harmoni kehidupan yang serasi tanpa tercemar atau terpengaruh oleh alam lingkungan. Bunga teratai merah melambangkan kesucian dan keberanian, namun keindahannya diakui oleh siapapun, mulai dari yang paling rendah dan hina sekalipunmelambangkan tingkat pencapaian kesadaran diri yang berdasar segala pengalaman kehidupan macam apa pun. Dalam agama Budha sikap duduk Sang Budha Gautama pada waktu bersemedi melambangkan posisi seperti bunga teratai dan duduk di singgasana yang disebut “padmanaba” atau tempat tumbuhnya bunga teratai. Padmanaba berarti pusat tempat tumbuhnya bunga teratai. Mitos dari agama Hindu, Padma tumbuh dari pusat Dewa Wisnu (salah satu Dewa Trimurti), yangketika terbangun dari semedinya di atas ananta, menerima wahyu bahwa melalui padma tersebut akan lahir Dewa Brahma. Padma yang keluar tersebut merupakan perlambang keberanian, kesucian, dan kemajuan. Dalam babad pewayangan, Dewa Wisnu dan Batara Kresna sebagai titisannya disebut Padmanaba. Kuncup Padmanaba melambangkan cita-cita pertumbuhan manusia yang suci, beriman, dan bertaqwa.

Akhirnya disepakati Padmanaba sebagai nama yang tepat untuk organisasi pelajar di SMT Yogyakarta pada tanggal 19 September 1942. Bila dianalogikan dengan keadaan sekarang, organisasi pelajar SMT tersebut adalah semacam organisasi siswa intra sekolah (OSIS) yang saat itu bernama Padmanaba.

Logo dan Mars PADMANABA

Tugas menggambar yang terbaik diselesaikan oleh pelajar bernama Suhud, yang memang memiliki darah seni yang kuat, sehingga akhirnya yang bersangkutan diberikan tugas membuat logo Padamanaba dibantu Soelaiman. Logo organisasi berupa bunga teratai merah dengan dua kelopak bunga dan delapan daun yang tersusun menjadi dua lapis yang arahnya bertolak belakang yang merupakan logo yang secara resmi mulai disahkan dalam Munas IV keluarga besar Padmanaba tahun 1997. Pengesahan tersebut sebagai upaya menyeragamkan logo organisasi yang dicetak, sekalipun tetap dengan gambar teratai merah.

Suhud yang kreatif juga mempersembahkan Mars Padmanaba sebagai kelengkapan perangkat organisasi pada waktu itu, yang seiring berjalannya waktu mengalami perubahan hingga saat ini. Diakui dua buah lagu Mars Padmanaba yang masing-masing seirama dengan zamannya pada waktu itu. Saat itu sudah dimulai penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga meskipun masih sangat sederhana dan sebagian besar masih dalam bentuk konvensi (ketentuan tidak tertulis), namun dilandasi oleh filosofi serta semangat persatuan yang dinamis.

Dikemudian hari terbukti para alumni SMA 3 Yogyakarta mampu menunjukkan prestasi terbaiknya dan pengabdian yang tulus dalam usaha pembangunan mengisi kemerdekaan. Sudah banyak alumnus Padmanaba yang menempati peran strategis di Negara kita, juga para alumnus yang mencapai puncak birokrasi, jenjang tinggi militer dan polisi, berprestasi dalam profesi dan di segala aspek kehidupan masyatrakat kita. Termasuk mereka yang tergolong menjadi “public figure” karena profesinya.

Reuni Para Alumni dan Organisasi PADMANABA

Pada tahun 1971 reuni alumni SMA 3 Yogyakarta di Surabaya diprakarsai oleh Dwidjo Hardjosubroto, Yamani Hassan dan Kardono, bertempat di gedung Pringgondani. Pada tahun itu juga, di Jakarta diselenggarakan acara yang sama. Diprakarsai oleh Iman Soekotjo, Radius Prawiro, Basuki Wardoyo, Frans Harsono dan Rochadi. Reuni alumni SMA 3 Yogyakarta yangberdomisili di Jakarta dan sekitarnya pertamakali diselenggarakan di rumah Radius Prawiro. Para pemrakarsa tersebut diatas kemudian mempunyai keinginan untuk mengadakan reuni secara nasional. Gagasan tersebut disambut baik oleh para alumnus dari berbagai kota. Pada tanggal 3 Juni 1972, keinginan tersebut terwujud. Bertempat di gedung SMA Negeri 3 Yogyakarta (nama sekolah saat itu), kemudian berkumpulan para perwakilan alumnus dari berbagai kota, meliputi Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Solo, Semarang, Magelang, dan kota-kota lain. Pada kesempatan tersebut para perwakilan alumnus dari berbagai kota mengadakan rapat yang dikenal sebagai Musyawarah Nasional I Padmanaba. Peserta siding berpendapat dipandangperlu melakukan sesuatu yang bermanfaat sebagai ungkapan rasa terima kasih dan balas budi kepada almamater. Maka, Munas I Padmanaba tersebut menghasilkan antara lain:

  1. Keanggotaan Padamanaba diperluas, selain siswa, juga termasuk para alumni dan para guru / mantan guru, pengurus sekolah dan organisasinya disebut Keluarga Besar Padmanaba.
  2. Membentuk pengurus Keluarga Besar Padmanaba dengan ketua umum Ir. Samsi Tjokrodigdo, pengurus pusat berkedudukan di Yogyakarta.
  3. Menugaskan pengurus untuk menyusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
  4. Membentuk Yayasan Pendidikan SMA Padmanaba.

Yayasan pendidikan SMA Padmanaba berdiri tanggal 26 Januari 1973 dengan pengesahan Akte Notaris RM Soerjanto Partaningrat dan ditetapkan sebagai ketua umum adalah Soetjono Darsosentono, SH.

Kedua organisasi tersebut di atas dibentuk dengan maksud dan tujuan:

  1. Mempererat rasa persatuan dan kekeluargaan antaranggota Padmanaba.
  2. Membantu memajukan pendidikan almamater dengan bantuan dana, sarana maupun bentuk-bentuk bantuan lainnya.

Pada tanggal 19 September 1982 diadakan Reuni Akbar II dan sekaligus Munas Keluarga Besar Padmanaba ke II di Yogyakarta. Hasilnya sebagai berikut:

  1. Membentuk pengurus Keluarga Besar Padmanaba periode 1982 – 1987 dengan ketua umum Soenarjono Danoedjo.
  2. Menetapkan Kardono sebagai ketua umum Yayasan Pendidikan SMA Padmanaba.
  3. Menyelenggarakan Reuni Akbar dan sekaligus Munas Keluarga Besar Padmanaba diselenggarakan bersamaaan dengan peringatan Lustrum Keluarga Besar Padmanaba.
  4. Keputusan tersebut di atas mewajibkan pengurus pusat Keluarga Besar Padmanaba tiap 5 tahun sekali menyelenggarakan Reuni Akbar dan Munas Keluarga Besar Padmanaba di Yogyakarta.

Yang seringkali menjadi pertanyaan yang tidak mudah dijawab; mengapa pengurus pusat berdomisili di Jakarta? Karena saat tersebut belum ada ketentuan yang menetapkan tempat kedudukan pengurus pusat. Kebetulan, mayoritas anggota pengurus pusat berdomisili di Jakarta. Maka dinyatakan secara de facto, pengurus pusat Keluarga Besar Padmanaba periode 1982 – 1987 berada di Jakarta.

Munas ke III Keluarga Besar Padmanaba pada tanggal 19 September 1987 di Yogyakarta diselenggarakan bersamaan dengan Reuni Akbar ke III menghasilkan keputusan-keputusan, antara lain:

  1. Menetapkan pengurus pusat periode 1987 – 1992 dengan terpilihnya kembali ketua umum, Soenarjono Danoedjo.
  2. Menugaskan pengurus pusat untuk menindaklanjuti rancangan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang telah dipersiapkan tetapi tidak sempat dibahas dalam Munas ke III.
  3. Menindaklanjuti amanat Munas I, pada tanggal 13 Mei 1983 bertempat di gedung Kantor Pemerintahan Daerah Jawa Tengah Semarang diselenggarakan rapat pengurus lengkap (rapat pengurus pusat diperluas) yang dihadirioleh pengurus atau utusan dari Kompartemen Yogyakarta, Kompartemen Jakarta, Surabaya dan Semarang, membahas rancangan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Keluarga Besar Padmanaba dengan harapan dapat disahkan pada Munas III.

Munas Keluarga Besar Padmanaba ke IV pada tanggal 19 September 1992 bersamaan dengan Reuni Akbar ke IV diselenggarakan di Yogyakarta mengahsilkan keputusan-keputusan, antara lain:

  1. Menetapkan Soenarjono Danoedjo sebagai ketua umum dan menugaskan Syaukat Banjaransari dan Soekorahardjo sebagai formatur menyusun pengurus pusat Keluarga Besar Padmanaba.
  2. Menetapkan Anggaran Dasar Keluarga Besar Padmanaba beserta Mars dan Hymne Padmanaba.
  3. Menetapkan program kerja Keluarga Besar Padmanaba periode 1992 – 1997. Antara lain menyusun rancangan Anggaran Rumah Tangga dan mendorong terbentuknya Kompartemen di daerah-daerah.
  4. Secara de jure, domisili pengurus pusat Keluarga Besar Padmanaba resmi di Jakarta dengan landasan pengesahan Anggaran Dasar Keluarga Besar Padmanaba pada Munas ke IV di Yogyakarta.

Munas ke V Keluarga Besar Padmanaba pada tanggal 20 September 1997 di Yogyakarta, sekaligus bersamaan dengan penyelenggaraan Reuni Akbar ke V. Keputusan-keputusan Munas ke V antara lain:

  1. Menetapkan Syaukat Banjaransari sebagai ketua umum serta menetapkan Nikentari Musdiono, Dasron Hamid, A Sutjipto dan LIliek Hendrajaya sebagai tim formatur pembentuk pengurus pusat Keluarga Besar Padmanaba pada periode 1997-2002.
  2. Menetapkan perubahan Anggaran Dasar dan menetapkan Anggaran Rumah Tangga Keluarga Besar Padmanaba, yang meliputi penetapan Lambang Padmanaba, Lagu Mars Padmanaba yang digubah pada era 1942 dan era 1950.
  3. Menetapkan program kerja Keluarga Besar Padamanaba periode 1997 – 2002.

Munas ke VI Keluarga Besar Padmanaba pada tanggal 19 September 2002 di Yogyakarta, sekaligus bersamaan dengan acara Reuni Akbar ke VI. Keputusan-keputusan Munas ke VI, antara lain:

  1. Menetapkan Latief Malangyudo sebagai ketua umum dan menugaskan anggota formatur Liliek Hendrajaya, Yati Hardjakoesoema dan Yoyok Wahyu Subroto menyusun Pengurus Pusat periode 2002 – 2007.
  2. Menetapkan program kerja Keluarga Besar Padmanaba 2002 – 2007, antara lain menerbitkan bulletin yang belum terlaksana pada masa kepengurusan sebelumnya.

Pada tanggal 2 Agustus 2003 diselenggarakan Rapat kerja Nasional (Rakernas) Keluarga Besar Padmanaba yang pertama sebagai upaya untuk menjabarkan program-program kerja pengurus Keluarga Besar Padmanaba, baik di tingkat pusat maupun di kompartemen. Sasaran utama Rapat Kerja Nasional tersebut yang lain adalah mengikat komitmen dari alumni untuk lebih meningkatkan kepedulian kepada komunitas, organisasi, almamater dan lingkungan masyarakat sekitarnya, khususnya masyarakat di Yogyakarta. Sudah tercapai landasan komitmen dari para alumni berupa keputusan Rakernas Padmanaba 2003 untuk segera diwujudkan dalam waktu yang telah direncanakan. Mudah-mudahan bisa berhasil dilaksanakan oleh para pengurus dan alumni SMA 3 Yogyakarta .

Kepedulian alumni melalui Keluarga Besar Padmanaba terhadap almamater yang sudah terwujud, antara lain:

  1. Bersama dengan Keluarga Argabagya membangun gedung pertemuan di kompleks almamater.
  2. Membangun pagar keliling sekolah.
  3. Merenovasi gedung sekolah bagian dalam.
  4. Menyumbang sejumlah unit komputer.
  5. Lain-lain bentuk bantuan perangkat yang berguna untuk sekolah.

Diharapkan dikemudian hari, kepedulian alumni terhadap almamater terus meningkat, karena alumni saat ini sudah semakin banyak yang telah berhasil dalam karier maupun usahanya.

Harmanto 23/1965

Prasodjo Sardadi 23/1965

Catatan:

Artikel di sadur bebas dari Sejarah Perkembangan Padmanaba pada buku Lustrum ke XII (60 tahun), disusun kembali oleh Yati Hardjakoesoema (alumnus 1967), yang diterbitkan oleh Panitia Reuni Akbar Padmanaba 2002 dan dikoreksi berdasar masukan dan informasi terakhir yang diterima dari Basuki Wardoyo (alumnus 1950).

Sumber dan Narasumber:

Buku Kenangan Lustrum ke XI Padmanaba.

Wawancara degan Prof. Dr. Soeprono (alumnus 1944) dan Soelaiman (alumnus 1945).

Dokumen hasil Munas ke V dan ke VI.

*diketik ulang dari majalah lustrum Padmanaba XIII (65 tahun) oleh Bob Maulana Singadikrama 62 /2004

 

Sumber : www.padmanaba.or.id

Comments 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *