Angkatan Padmanaba

Ramadhan Praditya Putra

ALAMAT
DOMISILI
TELEPHONE
WEBSITE
INSTAGRAM
HOBY
JENIS PEKERJAAN
GAMBARAN SINGKAT PEKERJAAN
KARIR
BIOGRAFI

Tak sedikit anak bangsa yang sudah menorehkan prestasi dengan bekerja di organisasi internasional pada usia muda. Laki-laki ini salah satunya. Muda, cerdas, dan berprestasi? Mungkin hal itu akan terbesit jika kalian membaca profil dari Ramadhan Praditya Putra, salah satu anak bangsa yang mengharumkan nama Indonesia dengan menjadi salah satu orang Indonesia yang bekerja di kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Yuk, kenal lebih dekat dan belajar banyak dari pengalamannya. Bekerja di luar negeri mungkin menjadi cita-cita para mahasiswa Indonesia setelah lulus. Begitu pula cita-cita Ramadhan Praditya Putra dulu ketika masih kuliah. Sekarang, dia berhasil meraih cita-citanya dengan berkerja di Associate Information Management Officer di Archives and Record Management Section, Department of Management, UN Secretariat, New York, Amerika Serikat. Odit, panggilan akrabnya, menjelaskan bahwa sejak tahun 2007, tahun pertama dia kuliah, dia memang sudah bercita-cita ingin bekerja di luar negeri. “Saya gencar mendaftar banyak program pertukaran pelajar dan juga beasiswa S2. Selama kuliah, ada tiga aplikasi pertukaran pelajar yang berhasil tapi jauh lebih banyak yang gagal. Setelah kuliah, saya mencoba mendaftar banyak beasiswa S2, dengan harapan saya bisa bekerja di luar negeri setelah lulus. Karena banyak gagal dalam mencari S2, saya mencoba realistis, yaitu melamar kerja di Jakarta dulu sebelum mencari S2.” ujar laki-laki kelahiran 25 April 1988 ini. Saat ditanya bagaimana awal mula dia bisa bekerja di PBB, laki-laki kelahiran Surabaya 27 tahun silam ini menjelaskan bahwa dia bisa bekerja di PBB melalui rekrutmen langsung yang diadakan oleh PBB. “Saya masuk UN Secretariat melalui program UN Young Professionals Programme, yaitu program perekrutan tenaga profesional muda PBB yang diadakan setiap tahun. Rekrutmen ini bersifat langsung, di mana para staf PBB dari delapan markas besar PBB di seluruh dunia akan datang ke negara-negara anggota PBB dan mengadakan tes tulis. Tahap setelah tes tulis adalah wawancara dengan beberapa manajer PBB dan alhamdulillah saya mendapat email penerimaan dari markas besar PBB setelah tahap itu,” kenang Odit yang pernah bekerja di IBM Indonesia selama 20 bulan Mengenai tugasnya sekarang, pekerjaan Odit adalah menjadi staf IT di PBB. “Tugas saya di departemen itu meliputi project management, merancang website, programming, membuat dokumentasi teknis, menggagas solusi teknis, dan lain-lain. Selama tujuh bulan terakhir, saya terlibat aktif dalam pengembangan search portal untuk arsip PBB. Jadi dalam beberapa minggu ke depan, khalayak umum sudah bisa mengakses arsip-arsip PBB yang sudah disimpan selama puluhan tahun,” tutur lulusan Teknik Elektro UGM yang pernah mengikuti pertukaran pelajar di Ball State University, Muncie, Indiana ini. Beradaptasi dengan sikap terbuka Lingkungan dan budaya yang berbeda pasti selalu dirasakan oleh semua orang yang bekerja di luar negeri. Begitu pula yang dirasakan oleh Odit. Namun ia punya cara sendiri untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja di sana. “Saya akan bersikap terbuka dan tidak menghakimi setiap hal yang saya jumpai jika itu aneh atau berbeda dengan apa yang selama ini saya anggap benar atau salah. Lalu cara kedua, saya akan lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Saya akan lebih banyak mengamati dan menerima sistem lingkungan atau kantor yang baru. Dan yang ketiga adalah saya akan berusaha memahami nilai-nilai apa saja yang dijunjung di kantor baru dan lingkungan baru saya, kemudian menyesuaikannya dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang sudah saya pegang,” tuturnya menjelaskan. Saat ditanya tentang kendala bekerja, Odit mengaku mempunyai kendala bahasa. Dia menuturkan, walaupun mampu berbahasa Inggris tetapi kosakatanya masih terbatas. Odit pun mengatasi kendala tersebut dengan membaca artikel bahasa Inggris yang sulit. Selain itu, Odit juga kesulitan mencari teman sebaya di PBB. “Kebanyakan sudah punya pengalaman kerja lebih dari 12 tahun. Otomatis, obrolan dan pembicaraan pun berbeda dibanding bercengkerama dengan teman sebaya. Di sini saya dituntut untuk lebih mengerti dunia mereka dan menempatkan diri seperti mereka.” jelasnya. Tidak hanya kendala, pengalaman lucu pun pernah dialaminya saat tinggal di Amerika Serikat. “Beberapa bulan lalu, saya ikut bermain dalam sebuah liga sepak bola PBB. Di liga itu, saya orang Indonesia sendiri dan yang badannya paling kecil juga. Setiap selesai bermain, biasanya saya didatangi orang yang bertanya dari mana saya berasal. Saya selalu senang bisa menjawab, 'saya dari Indonesia',” tutur laki-laki asli Yogyakarta ini. Kita takut meninggalkan zona nyaman Saat ditanya mengenai hal yang belum dimiliki dan yang perlu ditingkatkan masyarakat Indonesia agar bisa bekerja di level Internasional, Odit berkata bahwa kapasitas dan kemampuan mahasiswa Indonesia tidak kalah dengan bangsa lain, atau mungkin bisa lebih. “Mahasiswa kita keren-keren lho tapi kadang kala kekurangan mereka adalah terlalu nyaman dengan Indonesia dan takut keluar dari zona nyamannya. Selain itu, mereka sering kali tidak percaya diri dan masih ada pemikiran bahwa, hanya yang pintar, genius, atau berbakatlah yang bisa bekerja di luar negeri. Kenyataannya, ternyata tidak juga. Di New York pun tidak semua orang pintar. Padahal New York kalau diibaratkan seperti ibu kota dunia, di mana berbagai bangsa ada di sini. Justru yang punya cita-cita tinggi, bekerja keras, dan berani tetapi biasa saja yang bisa bekerja di luar negeri.” tuturnya. Di akhir wawancara, tidak lupa Odit mengucapkan pesan untuk pemuda Indonesia. “Bekerja di luar negeri itu bukan berarti pengkhianat bangsa tetapi kita mengabdi dengan cara yang berbeda. Menurut saya, sudah saatnya mahasiswa Indonesia bersaing di dunia global dan menunjukkan bahwa bangsa kita bisa bersaing dan punya kapasitas internasional, terlebih di era global ini,” jelasnya. Odit juga berpesan untuk mereka yang ingin bekerja di luar negeri agar mencoba kesempatan pertukaran pelajar, program magang, les bahasa Inggris, atau beasiswa ke luar negeri, dan melakukan yang terbaik, tidak tanggung-tanggung. "Belajarlah menulis esai dari nol. Kalau jelek atau gagal, kita justru akan belajar hal baru, dan kita belajar untuk lebih memahami diri kita karena kita yang melakukan sendiri dan itu orisinal,” ungkapnya mengakhiri wawancara. Sumber: careernews.id