Angkatan Padmanaba

Listiarso Wastuargo

ALAMAT
DOMISILI
TELEPHONE
WEBSITE
INSTAGRAM
HOBY
JENIS PEKERJAAN
GAMBARAN SINGKAT PEKERJAAN
KARIR
BIOGRAFI

Berkarir di perusahaan internasional pengembang jejaring sosial? Hmm, seperti apa ya rasanya? Yuk, simak cerita Listiarso Wastuargo, putra bangsa yang berkarir di Facebook! Siapa sih yang tidak kenal Facebook? Dengan jumlah pengguna luar biasa banyak, jejaring sosial yang diprakarsai Mark Zuckerberg ini memang dikenal oleh seluruh masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Bagaimana cerita Listiarso bisa menjadi salah satusoftware engineer di sana? Semua bermula dari International Olympiad in Informatics yang ia ikuti. Saat itu, ia meraih posisi ketiga dan mendapat medali perunggu. Sedangkan temannya yang berhasil menyabet emas, suatu ketika ditawari untuk interview di Facebook. “Teman saya ini memang super jago, menang di mana-mana,” ujar Listiarso. Sayangnya, temannya itu tidak berhasil lolos. Kemudian ia justru merekomendasikan Listiarso untuk diwawancara oleh Facebook. “Dari situ, saya dapat penawaran dari Facebook untuk magang tiga bulan. Setelah magang, saya ditawari menjadi staf full time,” papar Listiarso. Ingin jadi hacker? Sebelumnya, alumni Institut Teknologi Bandung ini tidak pernah merencanakan akan berkarir di perusahaan internasional manapun. “Dulu rencananya ingin mendirikan perusahaan consulting, dan mengerjakan proyek-proyek saja,” jelasnya. Saat apply ke Facebook pun, ia sudah memiliki cukup banyak proyek yang menunggu untuk dilanjutkan. Sejak masih menempuh bangku kuliah, mulai tingkat dua, ia sudah sering membuat proyek, seperti membuat website, aplikasi, dan juga game. Kemudian di tingkat tiga, Listiarso bekerja paruh waktu di salah satu perusahaan mobile services. Saat itu, ia sempat dikirim ke Singapura, untuk membantu membuat technical decision. “Sebenarnya merasa aneh, padahal saya cuma kerja paruh waktu,” tukasnya. Listiarso juga menceritakan, ia dan teman-temannya kemudian membuat consulting company, bernama PT Bangunindo Teknusa Jaya. Sampai saat ini, perusahaan tersebut masih tetap berjalan meski dirinya sudah berkarir di Facebook. Alasan utama Listiarso memilih Facebook adalah keinginan untuk bekerja bersama dengan orang-orang yang pintar dan ahli. “Soalnya, pasti bakalan kebawa pintar juga,” ujarnya. Selain itu, ia juga ingin tahu secara langsung bagaimana praktik engineering terbaik di ranah ilmu yang selama ini ia tekuni. “Intinya aku pingin belajar sebanyak-banyaknya di sini.” Minatnya terhadap bidang yang digeluti saat ini memang tumbuh sejak lama. Dari dulu, Listiarso mengaku suka dengan logika dan programming. Ia bahkan pernah berniat menjadi hacker karena sering menjadi korban bullying saat duduk di bangku SD dan SMP. “Tapi sekarang sudah hilang keinginannya. Yang tersisa tinggal masih suka programming aja,”ungkapnya sambil tertawa. Facebook: kerja yang fun dan santai Lingkungan kerja di Facebook yang fun dan santai kini telah 1,5 tahun lebih dirasakan Listiarso. Di sana, semua staf terpancang pada agenda yang rigid. “Semua dianjurkan untuk kerja atas kemauan sendiri. Goal bikin sendiri, berdasarkan visi besar tim atau perusahaan,” paparnya. Tak perlu terdesak dengan jam kerja yang tidak bisa dilanggar, ia justru terkadang datang jam dua siang dan pulang pukul empat sore ketika malas ke kantor. “Kadang-kadang juga enggak lanjut kerja habis itu,” ujarnya sambil tertawa. “Asalkan target tercapai, tidak usah khawatir keliatan gabut(gaji buta, -red) karena muncul di kantor hanya sebentar,” lanjutnya. Kantor Facebook juga menyediakan beragam permainan, gym, dan juga kafe (baca asyiknya kafe-kafe di kantor Facebook). Jika karyawannya merasa bosan, fasilitas tersebut tentu boleh digunakan. Mereka juga tidak perlu keluar dari kampus--istilah populer untuk headquarterperusahaan teknologi di area Silicon Valley--Facebook untuk mencari hiburan melepas penat. “Biasanya aku jam tiga jalan-jalan di kampus Facebook buat ambil milk tea, sambil ngobrol sama teman-teman Indonesia yang lain,” paparnya. Kendati lingkungan kerja yang sangat nyaman dirasakan oleh semua karyawan, bukan berarti mereka adalah orang yang pemalas dan sedikit bekerja. Mereka justru orang dengan tipe pekerja keras, super smart, dan self-driven. Selain itu, mereka juga biasanya adalah tipe-tipe spesialis, artinya mereka sangat ahli di satu bidang tetapi sama sekali tidak mengerti bidang lain. Akan tetapi, menurut Listiarso, terkadang orang-orang juga menyatakan bahwa karyawan Facebook bekerja terlalu keras. Tidak jarang mereka datang pukul tujuh pagi dan baru beranjak pulang tengah malam. “Kasihan yang sudah berkeluarga kalau harus keep up sama orang yang bekerja sampai seperti itu,” ujar Listiarso. Penuh tantangan dan pengalaman Bekerja di Facebook memberikan pengalaman-pengalaman baru bagi Listiarso. Posisinya sebagaisoftware engineer memang tidak banyak berbeda dengan sebelumnya. “Tetap saja meng-codingtiap hari. Tapi saya sekarang sudah mulai lebih ke arah jenjang manajemen. Soalnya di mana lagi bisa memimpin orang yang jauh lebih jago dari saya, tapi tidak direndahkan? Hahaha,” tukasnya sambil terkekeh. Bekerja di Facebook memang penuh tantangan. Ia mengaku tidak pernah merasa jenuh dan justru terpacu oleh rekan-rekan kerja yang sangat jago. “Kita harus keep up. Kalau enggak, nanti malu-maluin dan malah tidak dipromosi,” tuturnya. Ia pun masih terus belajar dan punya target-target tertentu. Tidak melulu hanya bekerja dalam satu tim, Listiarso juga kadang membantu tim lain. Saat ini Listiarso tengah mengerjakan platform untuk developer, dengan nama Parse. “Basically, itu cara mengembangkan mobile application, tapi tidak mau repot membuat server,” jelasnya. Meski terbilang belum lama berkarir di Facebook, Listiarso beruntung memiliki kesempatan bisa berjumpa dengan orang penting di balik kesuksesan jejaring sosial ini, Mark Zuckerberg. Ia sempat mengobrol sebentar ketika sedang bekerja di kantor pada akhir pekan. Karyanya juga pernah terpilih menjadi satu dari enam produk terbaik pada acara Hackathon, sehingga diminta untuk presentasi di hadapan Zuckerberg dan Mike Schroepfer, CTO Facebook. Perkuat bahasa, pelajari kultur Berkarir di perusahaan internasional memang tidak mudah tetapi bukan berarti tidak mungkin. Listiarso menyarankan, jika kamu ingin berkarir di perusahaan internasional, syarat paling utama adalah memiliki kemampuan berbahasa Inggris dengan baik. “Harus bisa ngomong, bukan hanya mengerti artinya,” tukasnya. Saat interview nanti, memikirkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan saja sudah cukup sulit. Apalagi jika tidak diimbangi dengan kemampuan bahasa Inggris yang memadai. Selain itu, yang harus disiapkan sebelum berkarir secara internasional adalah mempelajari lebih dulu bagaimana kultur di sana. Bukan hanya dari segi sosial tetapi juga budaya kerja yang akan dijalani. Menurut Listiarso, saat ini masyarakat Indonesia masih kurang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik, growth mindset, dan kemauan untuk over-deliver. “Kalau sudah jadi (pekerjaan selesai, -red), ya sudah. Tidak ada keinginan untuk membuat lebih bagus lagi, karena tidak dibayar untuk selebihnya,” paparnya ketika mencontohkan kasus di Indonesia. Padahal bagi pemuda ini, bekerja seharusnya bukan hanya demi uang tetapi demi lebih mengembangkan kemampuan. Ketiga hal itulah yang harus banyak ditingkatkan dan dikembangkan oleh masyarakat produktif di tanah air agar siap bersaing secara internasional. Di perusahaan internasional nanti, kamu pasti akan bertemu dengan banyak orang hebat dari berbagai negara. Dengan persiapan yang matang, tentu kamu tidak akan jauh tertinggal. Demikian halnya yang dilakukan Listiarso, yang hingga saat ini sangat menikmati profesinya sebagai software engineer di Facebook. Kendati sempat ada keinginan untuk resign, saat ini ia menginginkan untuk belajar sebanyak-banyaknya. “Kalau aku sudah mulai enggak belajar, mungkin sudah saatnya aku keluar,” ujarnya. Nantinya ia ingin melanjutkan perusahaan yang telah dirintisnya. Ia juga ingin membantu sang kakak membesarkan startup yang didirikan, Sale Stock Indonesia. “Walaupun sudah aku bantu sedikit dari sekarang,” tukasnya. Apakah kamu terinspirasi dengan kisah Listiarso? Atau kamu juga ingin menjadi software engineerseperti dia? Listiarso berpesan, untuk menjadi seorang software engineer, jangan batasi pikiranmu hanya di Indonesia saja. “It's changing rapidly now. Selalu cari-cari informasi terbaru, mencoba teknologi terbaru, jual produkmu ke customer, selalu coba workflow baru, dan inovasi baru. Intinya jangan berhenti belajar!” lanjutnya. “Keep growing, keep learning. Always aim to over-deliver!” pungkasnya. Sumber : careernews.id